Kisah Rohana Kudus, Sastrawan Perempuan yang Ubah Sejarah Pers di Indonesia

5 hours ago 11

Kisah Rohana Kudus tak dapat dipisahkan dari panjangnya sejarah Indonesia. Rohana Kudus merupakan sastrawan perempuan yang memiliki kisah menarik dalam perjuangan bangsa. Terutama di masa-masa ketika kaum hawa masih menghadapi keterbatasan memperoleh pendidikan serta menyampaikan gagasan.

Baca Juga: Jejak Armijn Pane dalam Sejarah Pergerakan Sastra dan Kebangsaan

Rohana hadir guna membuka ruang bagi perempuan untuk belajar sekaligus menyuarakan pemikirannya yang sebelumnya terkekang. Melalui pendidikan dan tulisan, ia perlahan mengubah cara masyarakat memandang kemampuan wanita. Kiprahnya kemudian menjadi bagian penting dalam sejarah pers di Tanah Air.

Kisah Rohana Kudus dan Profilnya

Rohana Kudus lahir dengan nama Siti Ruhana di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 20 Desember 1884. Ia merupakan putri Mohammad Rasjad Maharadja Soetan dan Kiam. Ayahnya bekerja sebagai pegawai pemerintah serta memiliki perhatian besar terhadap pendidikan anak-anaknya. Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk kegemaran Rohana terhadap ilmu pengetahuan sejak usia muda.

Hal menarik dari kisah ini, Rohana Kudus ternyata tidak memperoleh pendidikan formal seperti yang dinikmati sebagian anak pejabat pada masa itu. Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalanginya untuk terus belajar. Sang ayah sering membawakan bahan bacaan dari tempat kerjanya. Rohana kemudian belajar membaca serta menulis, termasuk menggunakan huruf Latin, Arab, hingga Arab-Melayu.

Ketika ayahnya bertugas di Alahan Panjang, Rohana juga mendapat kesempatan mempelajari berbagai keterampilan dari lingkungan sekitarnya. Ia belajar menjahit, menyulam, merenda bahkan berbagai keterampilan rumah tangga. Sosoknya juga gemar membaca berbagai bacaan yang memperluas wawasannya. Terutama mengenai pendidikan, kehidupan sosial, hingga perkembangan di luar negeri.

Setelah sang ibu ibu wafat pada 1897, Rohana kembali ke Koto Gadang. Sejak saat itu, kepeduliannya terhadap pendidikan perempuan semakin kuat. Ia mulai mengajarkan keterampilan dan membaca kepada anak-anak perempuan di lingkungan tempat tinggalnya. Semangat tersebut kelak berkembang menjadi gerakan pendidikan yang lebih terorganisasi.

Kiprah Rohana Kudus dalam Pendidikan serta Perjuangan Perempuan

Rohana kemudian menikah dengan Abdoel Koeddoes pada 1908. Sang suami mendukung penuh perjuangan Rohana dalam memajukan pendidikan perempuan. Dari sinilah kisah Rohana Kudus semakin berkembang. Salah satu kiprah terbesar Rohana bermula dari keprihatinannya terhadap keterbatasan pendidikan perempuan.

Baca Juga: Sosok Utuy Tatang Sontani, Sastrawan Bersejarah yang Terjebak Arus Politik 1965

Ia melihat perempuan pribumi membutuhkan keterampilan sekaligus kemampuan membaca dan menulis agar dapat meningkatkan kehidupannya. Pada 1911, Rohana mendirikan Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Lembaga tersebut memberikan pendidikan kepada perempuan dalam berbagai bidang.

Para murid belajar membaca, menulis, agama, keterampilan rumah tangga, serta kerajinan tangan. KAS kemudian berkembang menjadi tempat perempuan belajar sekaligus mengembangkan kemampuan ekonomi. Rohana pun membantu memasarkan hasil kerajinan para perempuan hingga ke luar daerah.

Perjuangan Rohana tidak selalu berjalan mudah. Ia menghadapi penolakan dari sebagian masyarakat yang masih memandang pendidikan perempuan sebagai sesuatu yang tidak perlu. Namun, berbagai hambatan tersebut justru membuatnya semakin aktif memperjuangkan gagasannya.

Mendirikan Majalah hingga Membuka Jalan Pers Perempuan

Kisah Rohana Kudus kemudian berkembang ke dunia jurnalistik. Ia sebelumnya menulis untuk surat kabar Poetri Hindia. Setelah surat kabar berhenti terbit, Rohana ingin menyediakan ruang khusus perempuan untuk membaca dan menulis. Keinginan tersebut ia sampaikan kepada Datuk Sutan Maharadja, pemimpin redaksi Oetoesan Melajoe.

Dari kerja sama keduanya lahirlah Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912. Rohana menjadi pemimpin redaksi, sementara penerbitan surat kabar mendapat dukungan dari jaringan Oetoesan Melajoe. Soenting Melajoe mengangkat berbagai persoalan perempuan. Mulai dari pendidikan, kehidupan sosial, perkawinan, hingga persoalan yang dihadapi masyarakat pada masa itu.

Kehadiran surat kabar tersebut menjadi tonggak penting bagi sejarah pers perempuan. Rohana tidak sekadar menulis untuk dirinya sendiri. Ia turut mendorong perempuan lain agar berani menuangkan pemikiran melalui tulisan. Melalui pers, jangkauan perjuangannya menjadi jauh lebih luas.

Peninggalan Rohana Kudus bagi Sejarah Indonesia

Rohana Kudus meninggalkan banyak warisan bagi bangsa. Tentu tidak hanya berupa tulisan atau surat kabar. Kisah Rohana Kudus meninggalkan warisan berupa gagasan bahwa perempuan memiliki kemampuan untuk belajar, berkarya dan menyampaikan pendapat di ruang publik. Tanpa perlu cemas terhadap tekanan maupun ancaman.

Rohana juga terus berkiprah dalam dunia pendidikan dan jurnalistik setelah meninggalkan Koto Gadang. Ia pernah mendirikan Roehana School di Bukittinggi dan kemudian terlibat dalam sejumlah media di berbagai daerah. Lebih jauh, Rohana menggunakan tulisan untuk membangkitkan semangat perjuangan pada masa kolonial.

Baca Juga: Mengenal Kisah Perjalanan Sastrawan Indonesia Abdoel Moeis

Rohana Kudus sendiri meninggal di Jakarta pada 16 Agustus 1972. Setelah Rohana Kudus wafat, berbagai penghargaan diberikan atas kisah dan jasanya. Termasuk penghargaan sebagai Wartawati Pertama, Perintis Pers Indonesia, dan Bintang Jasa Utama. Pemerintah Indonesia kemudian menetapkan Rohana Kudus sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No 120/TK/Tahun 2019. Hingga kini, kisah Rohana Kudus begitu dikenang. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |