harapanrakyat.com,- Pemkot Cimahi resmi mengambil langkah tegas dengan menghentikan total proyek penambahan sumur artesis baru di wilayahnya. Kebijakan ini diambil sebagai langkah darurat untuk mengendalikan penurunan drastis volume air bawah tanah yang kian mengkhawatirkan.
Baca juga: Bangun Program TNI Manunggal Air Bersih, Lebih dari 800 Keluarga di Cimahi Bakal Nikmati Aliran Air
Langkah proteksi lingkungan hidup ini didasari atas hasil kajian teknis mengenai ancaman krisis pasokan air bersih yang diprediksi bakal semakin meluas. Pemerintah kini memperketat pengawasan terhadap sisa fasilitas penyedotan air guna menjaga stabilitas ekosistem lingkungan jangka panjang.
Langkah Pemkot Cimahi Setop Pengeboran Sumur Artesis
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Cimahi, Amy Pringgo Mardani, memaparkan data sebaran infrastruktur pengolahan air saat ini. “Kalau titik artesis yang ada dan beroperasi sampai dengan sekarang di Cimahi ada 47 titik. Seluruhnya dikelola oleh KPSAM dengan pengendalian dari Pemkot Cimahi,” urai Amy Pringgo, Jumat (3/7/2026).
Dari puluhan fasilitas penyedotan aktif tersebut, Amy menyebutkan bahwa aset yang murni dimiliki oleh pihak pemkot jumlahnya di bawah sepuluh lokasi. Sektor manufaktur dan industri manufaktur skala besar diidentifikasi menjadi penyumbang terbesar atas merosotnya cadangan air di perut bumi.
Baca juga: Usia Seperempat Abad, Pemkot Cimahi Arahkan Pembangunan ke Layanan Prima dan Ekonomi Warga
Berdasarkan laporan pemetaan dari Badan Geologi, tingkat penurunan muka air tanah di kawasan Bandung Raya kini berada di fase kritis. Pengosongan rongga bumi akibat penyedotan tanpa kendali selama bertahun-tahun membuat tinggi muka air anjlok antara 60 hingga 100 meter.
Guna mengatasi persoalan ini, orientasi pemenuhan kebutuhan logistik cairan warga dialihkan dengan memanfaatkan potensi air permukaan seperti aliran sungai. Air dari sungai tersebut nantinya akan diolah secara higienis melalui sistem pipanisasi terpadu, sementara sumur dalam yang ada hanya difungsikan untuk kondisi darurat.
Pemerintah daerah juga gencar mengampanyekan pembuatan sumur imbuhan, biopori, hingga bak resapan guna mengembalikan fungsi hidrologi tanah saat musim hujan. Program rehabilitasi ini diharapkan mampu mengisi kembali kantung-kantung air bawah tanah yang telah lama menyusut akibat aktivitas eksploitasi.
Tantangan pemenuhan air bersih sejauh ini masih membayangi wilayah Cimahi bagian selatan seperti Kelurahan Utama, Melong, dan Leuwigajah saat kemarau tiba. Melalui perluasan jaringan distribusi pipa air permukaan, pemerintah bertekad menghapus kesenjangan pasokan komoditas air bersih di tengah masyarakat. (Juhaeri/R6/HR-Online)

1 day ago
14

















































