Raden Achmad Soebardjo, Menlu Pertama RI Pernah Lawan Belanda di Negaranya

6 hours ago 9

Raden Achmad Soebardjo sangat populer dalam sejarah Indonesia. Bagaimana tidak, ia menjadi pejuang sekaligus diplomat yang aktif memperjuangkan kemerdekaan RI. Kiprahnya bahkan sudah berlangsung lama, tepat ketika Indonesia masih berada di bawah penjajahan Belanda.

Baca Juga: Sejarah Letkol Moch Sroedji Pahlawan Pejuang Jember yang Gugur Melawan Penjajah Belanda

Achmad Soebardjo juga pernah menempuh pendidikan hingga ke Belanda dan memperoleh gelar hukum dari Universitas Leiden. Selama berada di Eropa, ia tidak hanya fokus pada pendidikan pribadi. Sosoknya turut aktif menyuarakan gagasan kemerdekaan Indonesia sekaligus melawan kolonialisme langsung dari sarangnya.

Profil Raden Achmad Soebardjo dalam Perjuangan Kemerdekaan

Pemilik nama asli Teuku Abdul Manaf ini lahir di Teluk Jambe, Karawang, pada 23 Maret 1896. Ayahnya bernama Teuku Muhammad Yusuf dan ibunya Wardinah. Dari kedua orang tuanya, Achmad Soebardjo memiliki darah keturunan Aceh, Jawa serta Bugis. Nama Achmad Soebardjo sendiri adalah pemberian sang ibu.

Saat muda, ia menempuh pendidikan di Hogere Burger School, Jakarta. Setelah itu, melanjutkan pendidikan hukum di Universitas Leiden, Belanda. Pada 1933, sosoknya memperoleh gelar Meester in de Rechten dari universitas tersebut. Pendidikan hukum itu kemudian mendukung kiprahnya dalam bidang politik sekaligus diplomasi.

Sejak menjadi mahasiswa, Achmad Soebardjo sudah aktif dalam pergerakan nasional. Ia pernah aktif di Jong Java dan Indische Vereeniging. Pada 1920–1921, ia dipercaya menjadi ketua Indische Vereeniging. Organisasi tersebut kemudian berkembang menjadi Perhimpunan Indonesia di Negeri Kincir Angin.

Perlawanan di Belanda Lewat Kongres Anti-Kolonial

Perjuangan Raden Achmad Soebardjo di Belanda tidak berlangsung melalui pertempuran bersenjata. Ia melawan kolonialisme melalui gagasan, organisasi dan diplomasi. Pada Februari 1927, misalnya, ia bersama Mohammad Hatta mewakili Indonesia dalam kongres internasional di Brussels.

Kongres tersebut bernama Liga Menentang Imperialisme dan Penindasan Penjajahan. Forum ini mempertemukan berbagai tokoh nasionalis dari Asia dan Afrika. Salah satu tokoh yang hadir dalam forum tersebut adalah Jawaharlal Nehru. Kehadiran Achmad Soebardjo menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia sudah memasuki forum internasional.

Baca Juga: Peran Katamso Darmokusumo, Pahlawan Asal Sragen

Ia menyampaikan gagasan tentang kemerdekaan serta penolakan terhadap imperialisme. Pengalaman tersebut kemudian memperkuat kemampuan diplomasi yang sangat penting bagi perjuangan Indonesia. Ia tidak hanya memahami politik kolonial dari dalam negeri. Sosoknya juga melihat langsung bagaimana isu penjajahan Indonesia dapat dibawa ke hadapan masyarakat internasional.

Rengasdengklok hingga Perumusan Naskah Proklamasi

Menjelang kemerdekaan, Raden Achmad Soebardjo kembali memainkan peran penting. Pada 16 Agustus 1945, sekelompok pemuda membawa Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdengklok. Para pemuda ingin kemerdekaan segera Soekarno proklamasikan tanpa menunggu keputusan Jepang.

Sementara itu, golongan tua berusaha mencari waktu yang tepat untuk memastikan Proklamasi. Achmad Soebardjo kemudian berunding dengan Wikana sebagai perwakilan kelompok pemuda. Ia menyatakan kesediaannya menjamin Proklamasi berlangsung pada 17 Agustus 1945. Jaminan tersebut membuat Soekarno dan Hatta akhirnya dapat kembali ke Jakarta.

Setelah itu, proses perumusan Proklamasi berlangsung di rumah Laksamana Tadashi Maeda. Achmad Soebardjo ikut menyusun konsep naskah bersama Soekarno dan Mohammad Hatta. Ketiganya merumuskan teks yang kemudian menjadi dasar pernyataan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tersebut menempatkannya sebagai salah satu tokoh penting dalam detik-detik menuju kemerdekaan.

Terpilih Menjadi Menlu Pertama RI

Setelah Proklamasi, Indonesia segera membangun struktur pemerintahan sendiri. Pada 18 Agustus 1945, PPKI menetapkan Soekarno sebagai presiden dan Mohammad Hatta sebagai wakil presiden. Di hari yang sama, ia terpilih menjadi Menteri Luar Negeri. Ia tercatat sebagai Menteri Luar Negeri pertama Republik Indonesia.

Sekitar 19 Agustus 1945, PPKI melanjutkan penataan pemerintahan melalui sidang kedua. Pemerintah menetapkan pembagian wilayah Indonesia dan membentuk kementerian untuk menjalankan pemerintahan. Posisi Achmad Soebardjo sangat strategis dalam pemerintahan yang baru berdiri.

Pasalnya, Indonesia membutuhkan sosok yang memahami diplomasi dan hubungan internasional. Pengalamannya selama berada di Belanda menjadi salah satu bekal penting untuk menjalankan tugas tersebut. Ia kemudian kembali terpilih menjadi Menteri Luar Negeri pada 1951 hingga 1952. Selain menjadi menteri, ia juga pernah menjalankan tugas sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss. Jabatannya berlangsung pada 1957 hingga 1961.

Baca Juga: Sejarah KH Zainal Mustafa, Perjuangan Santri Tasikmalaya Melawan Penjajah

Raden Achmad Soebardjo sendiri wafat pada 15 Desember 1978. Ia wafat di Rumah Sakit Pertamina, Kebayoran Baru, Jakarta, pada usia 82 tahun. Pemerintah kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2009. Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan atas jasa panjang Raden Achmad Soebardjo bagi Indonesia. (R10/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |