Mahasiswa UGM Sulap Mangrove Pangandaran Jadi Teh Khas Desa, Rasanya?

13 hours ago 11

harapanrakyat.com,- Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Periode II Tahun 2026 sosialisasikan pembuatan teh mangrove di Desa Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Inovasi tersebut diharapkan mampu menjadi produk unggulan UMKM sekaligus menambah daya tarik wisata desa pesisir tersebut.

Dalam kegiatan itu, mahasiswa memperkenalkan proses pengolahan daun mangrove dari jenis Rhizophora dan Sonneratia menjadi minuman teh yang memiliki cita rasa khas. Daun mangrove dipilih, kemudian dikeringkan hingga benar-benar kering sebelum dicampurkan dengan bahan lain seperti bunga melati dan teh herbal untuk menghasilkan aroma yang lebih harum dan rasa yang lebih nikmat. Setelah melalui proses pengemasan yang menarik, produk tersebut diharapkan memiliki nilai jual yang tinggi.

Mahasiswa Fakultas Kehutanan UGM, Amalia Safitri, mengatakan bahwa Desa Legokjawa memiliki potensi besar untuk mengembangkan produk teh mangrove karena ketersediaan bahan bakunya yang melimpah.

“Setelah proses pengeringan dan pencampuran dengan bahan lain, teh langsung dikemas agar tampil lebih menarik. Kami berharap produk ini bisa menjadi ciri khas UMKM Desa Legokjawa,” kata Amalia, Kamis 30 Juli 2026.

Menurutnya, kondisi geografis Legokjawa yang berada di kawasan pesisir menjadikan desa tersebut kaya akan tanaman mangrove, sehingga masyarakat tidak akan kesulitan memperoleh bahan baku.

Baca Juga: Modus Penipuan Berkedok Petugas PLN Terjadi di Pangandaran, Korban Serahkan Uang Hasil Jualan Rp100 Ribu

“Potensi mangrove di Legokjawa sangat besar. Karena itu, kami berharap ke depan terbentuk kelompok tani atau kelompok pengelola mangrove yang dapat melanjutkan inovasi ini sehingga manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat,” tambahnya.

Manfaat Teh Mangrove Pangandaran

Amalia menilai, teh mangrove berpeluang menjadi identitas baru Desa Legokjawa yang selama ini telah dikenal luas sebagai kawasan pacuan kuda. Bahkan, arena pacuan kuda Legokjawa pernah menjadi lokasi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) hingga ajang bergengsi Indonesia Derby.

“Selain dikenal sebagai desa pacuan kuda, Legokjawa juga bisa memiliki produk khas berupa teh mangrove. Jika dikelola dengan baik, tentu dapat meningkatkan daya tarik wisata sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ucap Amalia.

Ia menjelaskan, produk teh mangrove sebenarnya telah lebih dulu dikembangkan di sejumlah daerah seperti Banyuwangi. Namun, potensi serupa yang dimiliki Legokjawa hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal.

“Harapan kami, gagasan ini bisa menjadi awal berkembangnya UMKM berbasis mangrove di Legokjawa sehingga potensi alam yang ada tidak hanya menjadi pemandangan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi,” ucap Amalia.

Selain memiliki nilai ekonomi, teh mangrove juga diyakini memiliki manfaat bagi kesehatan karena mengandung antioksidan. Produk ini bahkan telah dipasarkan di berbagai marketplace dan mulai dikenal masyarakat sebagai minuman herbal.

Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa KKN UGM juga menyajikan teh mangrove hasil olahan mereka kepada para peserta. Respons masyarakat pun sangat positif. Banyak peserta yang mengaku menyukai cita rasanya hingga meminta tambahan.

“Melalui inovasi teh mangrove ini, kami berharap potensi sumber daya alam pesisir Legokjawa dapat diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat identitas desa sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal,” ujarnya.

Respons Masyarakat setelah Mencicipi Teh Mangrove

Salah seorang perangkat Desa Legokjawa, Mamat, mengaku baru pertama kali mencicipi teh mangrove. Ia mengaku terkejut karena rasanya jauh lebih enak dari yang dibayangkan.

“Baru kali ini saya minum teh mangrove. Ternyata enak sekali. Saya sampai minta tambah karena rasanya memang nikmat, malah jadi ketagihan,” ungkap Mamat.

Ia berharap kegiatan yang dilakukan mahasiswa KKN UGM tidak berhenti pada tahap sosialisasi semata, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui pembentukan kelompok tani atau kelompok pengelola mangrove di desa.

Baca Juga: Pantai Madasari Pangandaran Punya Pesona Bak Tanah Lot, Bikin Wisatawan Terpikat

“Kalau bahan bakunya sudah tersedia dan cara mengolahnya sudah diajarkan oleh mahasiswa, tinggal bagaimana masyarakat melanjutkannya. Ini bisa membantu perekonomian warga, menggerakkan UMKM, sekaligus menjadi produk khas Desa Legokjawa,” ujarnya. (Kiki/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |