harapanrakyat.com,- Kawasan Dadaha Tasikmalaya yang biasa riuh oleh lalu lalang kendaraan kini mendadak lengang setelah diberlakukannya kebijakan penutupan jalan khusus pejalan kaki. Namun, di balik wajah baru kawasan yang ditata agar ciamik tersebut, tersimpan cerita perjuangan para pedagang kecil yang harus mengurut dada akibat omzet yang terjun bebas.
Baca juga: Pemkot Tasikmalaya Beberkan Alasan Penutupan Jalan Utama Dadaha
Mrowadi, seorang pedagang yang sehari-hari menggantungkan nasibnya di kawasan Dadaha, mengaku kebijakan ini menjadi pukulan telak bagi keberlangsungan usahanya. Pengalihan arus lalu lintas secara otomatis memangkas potensi pembeli spontan yang biasanya mampir saat melintas.
”Kalau mempengaruhi pedagang di sini emang sangat pengaruh, A. Soalnya ya enggak ada… yang pembeli itu cuma pendatang doang gitu. Jadi biasanya kan yang lewat tadinya enggak beli, jadi beli, gitu kan. Ya itu pengaruhnya, pengaruhnya ada, ada. Pengurangan omset ada,” tutur Mrowadi saat ditemui Harapan Rakyat, Kamis (27/8/2026).
Sosialiasi ke Pelaku UMKM Terkesan Mendadak
Mrowadi menambahkan, kondisi makin pelik lantaran sosialisasi yang diterima para pelaku UMKM terkesan mendadak. Informasi penutupan jalan hanya disampaikan dua hari sebelum eksekusi lapangan, tanpa memberi ruang persiapan bagi para pedagang untuk beradaptasi.
”Ya kemarin itu sempat ada, cuma 2 hari sebelum penutupan gitu ya. Jadi bahwasanya jalan ini mau ditutup buat pejalan kaki, khusus pejalan kaki, jadi biar dipandangnya enak mungkin ya gitu ya, dari kemarin itu,” jelasnya.
Baca juga: Baru Seumur Jagung, Pedestrian Taman Dadaha Tasikmalaya Sudah Rusak dan Membahayakan
Kendati omzet merosot tajam, Mrowadi bersama rekan-rekan pedagang lainnya memilih untuk tidak angkat kaki. Minimnya opsi lokasi baru membuat mereka terpaksa bertahan di tengah ketidakpastian.
”Sementara ini kayaknya belum ada (yang pindah). Sementara ini masih… masih bertahan. Ya gimana caranya tuh ya… kita bertahan dulu lah gimana bagusnya pemerintah nanti menunggu kelanjutannya,” ungkap Mrowadi.
Besar harapan para pedagang agar pemerintah daerah tidak sekadar mengejar keindahan tata kota semata, namun juga menghadirkan solusi konkret yang berpihak pada kelangsungan hidup rakyat kecil.
”Ya mohon diperhatikan juga ini, soalnya kan kita itu ya butuh makan, A. Jadi kita itu ya gimana ya… kalau secara istilahnya kita ini harus berjuang gitu kan, berjuang demi hidup gitu. Kalau ditutup gini ya emang omset sekarang emang lagi menurun drastis gitu. Sedangkan kebutuhan sehari-hari harus ada. Ya gimana bagusnya pemerintah lah, kalau mengambil keputusannya gimana nanti gitu,” tutupnya. (Rafi/R6/HR-Online)

14 hours ago
14

















































