harapanrakyat.com,- Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menegaskan komitmennya untuk tidak berfokus pada wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda yang belakangan ini kembali mengemuka.
Dedi memilih fokus menggarap sektor-sektor pembangunan daerah yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan harian warga.
“Kami ingin berfokus pada pembangunan daerah di Provinsi Jawa Barat, itu yang menjadi substansi tuntutan masyarakat. Fokus kami membangun, bukan mengganti nama,” kata Dedi di Bandung, Rabu (15/07/2026).
Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Minta Maaf Atas Kemacetan Proyek Jalan, Jamin Uang Pajak Kembali ke Rakyat
Wacana Nama Provinsi Sunda Mengemuka, Dedi Fokus Benahi Infrastruktur Jalan Hingga ke Desa
Dedi berujar, Pemprov Jawa Barat kini sedang menggenjot pembenahan infrastruktur, terutama aksesibilitas jalan.
Ia ingin proyek pengaspalan dan perbaikan jalan yang berstatus milik provinsi bisa terkoneksi atau menjangkau area pedesaan di seluruh pelosok Jawa Barat.
“Kami ingin selesai problem infrastruktur agar jalannya terkoneksi sampai desa. Saya lihat infrastruktur jalan sudah mulai baik hari ini, khususnya di wilayah provinsi,” ujarnya.
Strategi Pencegahan Stunting Sejak Masa Kehamilan
Di samping pembenahan akses jalan, Pemprov Jawa Barat tengah merancang program intervensi stunting dengan skema baru yang lebih terukur.
Dedi sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Jawa Barat untuk memetakan penanganan stunting yang menyasar ibu hamil secara langsung sejak masa awal kehamilan.
“Kami juga fokus pada penyelesaian stunting. Saya sudah punya konsep, saya sudah tanya ke Kadinkes untuk membuat sebuah perencanaan kerja penanganan sejak kehamilan,” ucapnya.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Rencanakan Revitalisasi Kawasan Cipanas Cianjur Menjadi Mirip Ciater Subang
Pemprov Jawa Barat akan memberdayakan bidan desa untuk mengawasi ketat perkembangan kesehatan ibu hamil yang berpotensi kekurangan gizi.
Bidan memiliki keahlian untuk menginformasikan kebutuhan nutrisi hingga gizi bagi ibu hamil selama kurun waktu sembilan bulan.
“Penanganan stunting ketika sudah lahir itu berat karena anak-anak sulit menyerap gizi dan protein. Polanya nanti bidan yang memeriksa bisa langsung menulis resep untuk kebutuhan selama sembilan bulan, mulai dari kebutuhan vitamin, nutrisi, makanan, hingga susunya,” tuturnya.
Proses SPMB di Jawa Barat Relatif Baik
Beralih ke sektor pendidikan, Dedi mengklaim dinamika Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) masih tergolong relatif baik.
Bahkan, Pemprov Jawa Barat sudah menyiapkan Sekolah Swasta Kerja Sama (SSK) bagi murid yang tidak terserap di SMA maupun SMK negeri.
Baca Juga: SPP SMA-SMK Negeri di Jawa Barat Bakal Berlaku Lagi, Hanya Sasar Murid dari Keluarga Mampu
“Penerimaan murid baru relatif lebih baik. Anak-anak bisa ke sekolah negeri maupun swasta. Sekolah swasta pun ada dua pilihan, ada jalur subsidi (SSK) dari Pemprov dan yang berbayar bagi orang tua yang mampu,” katanya. (Reza/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

3 hours ago
4

















































