Menggali Nilai Sejarah Candi Dukuh di Tepian Danau Rawapening Semarang

23 hours ago 15

harapanrakyat.com,- Mempelajari sejarah Candi Dukuh memberikan wawasan baru tentang sejarah Indonesia pada masa lampau. Situs purbakala Hindu ini terletak di Desa Rowoboni, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Selanjutnya, para ahli arkeologi memperkirakan bangunan berbahan batu andesit ini berdiri megah pada abad kesembilan.

Baca juga: Sejarah Candi Klotok sebagai Pusat Peradaban Kediri Kuno

Menariknya, peninggalan bersejarah ini sering disebut oleh masyarakat sekitar sebagai Candi Brawijaya. Hal ini karena situs tersebut diyakini pernah menjadi tempat pertapaan Prabu Brawijaya V. Kemudian, penguasa Kerajaan Majapahit itu kabarnya menyingkir ke sana saat kerajaannya mulai melemah.

Jejak Sejarah Candi Dukuh dan Keunikan Arsitekturnya

Bangunan kuno ini memiliki gaya arsitektur yang sangat mirip dengan Candi Gedong Songo. Struktur utamanya berupa batur yang memiliki tangga dengan hiasan pahatan ular melilit. Selain itu, bagian atas ambang pintu masuk utama juga memiliki hiasan kepala Kala.

Para peneliti purbakala telah berhasil mengidentifikasi berbagai temuan artefak penting di lokasi reruntuhan. Mereka menemukan sebuah yoni, beberapa lingga patok, serta empat buah umpak penyangga tiang. Temuan benda suci ini membuktikan bahwa tempat ini merupakan fasilitas peribadatan umat Hindu.

Baca juga: Menggali Sejarah Candi Astano di Kawasan Cagar Budaya Muaro Jambi

Tim ahli arkeologi berhasil menyelamatkan beberapa peripih lempengan emas yang memuat simbol dewa. Tiga lempengan emas tersebut menampilkan pahatan gambar gajah sebagai tunggangan suci Dewa Indra. Berikutnya, terdapat ukiran bunga padma dan bulan sabit yang menjadi atribut Dewa Siwa.

Kisah tragis sempat mewarnai perjalanan monumen suci peninggalan Kerajaan Mataram Kuno ini. Catatan surat kabar masa lalu menyebutkan bahwa tentara Belanda meledakkan situs budaya ini. Peristiwa peledakan pada tahun 1911 tersebut sengaja dilakukan untuk mencari timbunan harta karun.

Upaya Pemugaran dan Pelestarian Situs Purbakala

Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah mulai memugar situs ini pada tahun 2011. Sebelum proses restorasi berlangsung, wujud bangunan ini justru terlihat menyerupai sebuah makam Islam. Bentuk makam tersebut kemungkinan besar merupakan hasil adaptasi masyarakat lokal pada masa lampau.

Saat ini, pengunjung wisata hanya bisa melihat struktur batur dan dinding candi utamanya. Bangunan suci yang letaknya berada di atas bukit ini berdiri kokoh tanpa atap. Pemandangan alam di sekitar kawasan perbukitan tersebut sungguh terasa sangat sejuk dan asri.

Baca juga: Menelusuri Jejak Sejarah Candi Orang Kayo Hitam di Jambi

Sayangnya, koleksi peninggalan arca batu berukuran besar kini telah hilang tak berbekas. Benda cagar budaya tersebut raib dicuri oleh pihak-pihak yang sama sekali tidak bertanggung jawab. Keterlambatan perhatian pemerintah daerah pada masa lalu menjadi salah satu penyebab utama pencurian.

Pemerintah desa setempat kini mulai memberikan perhatian serius terhadap akses jalan menuju lokasi. Mereka telah membangun jalan rabat beton yang kokoh menggunakan dana desa secara maksimal. Langkah strategis ini sangat membantu pengunjung agar tidak tergelincir saat musim hujan tiba.

Kawasan warisan budaya masa lampau ini rutin dikunjungi oleh mahasiswa dan peziarah spiritual. Penjagaan ketat kini dilakukan oleh juru kunci untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut. Tidak diragukan lagi, kelestarian sejarah Candi Dukuh harus selalu dijaga oleh kita semua. (Muhafid/R6/HR-Online)

Read Entire Article
Perayaan | Berita Rakyat | | |